Best Article

Sunday, September 30, 2012

Cara Mengatasi Kaki Terkilir


Cara mengatasi Kaki Terkilir

Tanpa obat:

Untuk terkilir yang tidak parah, selama 24 jam pertama bisa dibantu dengan kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan.

Mungkin diperlukan penopang berupa perban pembalut elastis. Lakukan kegiatan seperti biasa dengan hati-hati sambil mencoba sedikit-sedikit menggunakan sendi yang terkena.
                                                                               
Untuk mengurangi pembengkakan, bisa juga dibantu dengan ramuan tradisional. Parutan 2 ruas jahe (Ziniber officinale, Rosc.) ditambahkan sedikit garam, dibalurkan pada bagian tubuh yang terkilir. Lakukan ini 2x sehari.

Atau dengan segenggam kacang hijau (Phaseolus radiatus, L.) mentah, sedikit sereh (Cymbopogon nardus, L. Rendle, atau Adropogon nardus, L.) dan sedikit air, ditumbuk sampai agak halus. Balurkan ramuan ini ke bagian yang terkilir, lalu balut.

Obat bebas:

Untuk mengurangi rasa sakit bisa digunakan obat asetaminofen atau obat-obat antiradang nonsteroid seperti ibuprofen untuk rasa sakit yang disertai pembengkakan.

Obat/tindakan dokter:

Bila terkilir yang dialami cukup serius sehingga sendi tidak stabil, dokter akan memberi tindakan yang sesuai kondisi. Bagian yang terkilir mungkin akan diberi belat agar tidak bisa digerakkan.

Cedera paling sering yang dialami ketika berolahraga mungkin adalah otot terkilir. Bahasa medisnya disebut juga dengan sprain dan strain.
 Sprain = teregangnya ligamen (jaringan ikat/penghubung yg kuat) sehingga menimbulkan robekan parsial/sebagian.
 Strain = teregangnya otot dan tendon (jaringan ikat/penghubungan yg kuat yg menghubungkan otot dengan tulang)
Terkilir paling sering terjadi pada ankle/pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan ruas2 jari.
 Secara umum, gejalanya adalah nyeri, bengkak, kulit tampak kemerahan, dan tentunya akan mengganggu fungsi bagian yang terkena.
Apa yang harus dilakukan pertama kali/pertolongan pertama?
Prinsip terapinya adalah RICE:
R = rest/istirahat. Segera berhenti melakukan segala aktivitas, pepatah “no pain no gain” yang dianut beberapa olahragawan tidak dapat dibenarkan dalam kasus ini. Aktivitas yang berlebih pada bagian tubuh yg terkena akan memicu terjadinya komplikasi lebih lanjut, misal ligamen yang robek akan semakin parah, bahkan seringkali terkilir disertai pula dengan fraktur/patah/retak pada tulang.
I = ice. Ingat, es bukan kompres hangat!!! saat cedera baru berlangsung, akan terjadi robekan pembuluh darah yang berakibat keluarnya “isi” pembuluh darah tersebut ke jaringan sekitar nya sehingga bengkak, pembuluh darah sekitar tempat cedera juga akan melebar (dilatasi) sebagai respon peradangan. Pemberian kompres dingin/es akan “menyempitkan” pembuluh darah yg melebar sehingga mengurangi bengkak. Kompres dingin bisa dilakukan 1-2 kali sehari, jangan lebih dari 20 menit karena justru kan mengganggu sirkulasi darah.
 Sebaliknya, saat cedera sudah kronik, tanda2 peradangan seperti bengkak, warna merah, nyeri hebat sudah hilang, maka prinsip pemberian kompres hangat bisa dilakukan
C = compression. Kompres/penekanan pada bagian cedera, bisa dilakukan dengan perban/dibalut. Jangan terlalu erat, tujuannya untuk mengurangi pembengkakan.
E = elevation. Jika ankle kaki yg terkilir, sering2 istirahat dengan kaki diangkat, dengan diganjal. Tujuannya untuk mengurangi pembengkakan.
 Pemberian obat anti sakit dan anti radang bisa diberikan atas petunjuk dokter.
Bagaimana dengan pijat/urut tradisional??
 Secara medis, ini sangat tidak dapat dibenarkan. Mengapa? Terkilir adalah suatu cedera yang melibatkan proses peradangan, yang disertai robekan pembuluh darah dan bahkan yang lebih berat lagi dapat disertai fraktur atau robekan ligamen yang lebih besar. Manipulasi/memijat bagian yg cedera akan memperparah karena mencegah pembuluh darah yang robek yang harusnya secara normal akan “menutup” (sebagai respon alami tubuh), belum lagi jika ada robekan ligamen dan fraktur. Prinsip RICE adalah prinsip utama yang sudah menjadi gold standard/prinsip penanganan utama untuk terkilir di belahan dunia manapun, terutama untuk olahragawan2.
Apabila anda adalah seseorang yang benar2 mencintai olahraga, tindakan “agresif” kadang perlu dilakukan, misal:
 Segera setelah RICE, lakukan foto rontgen. Rontgen bisa melihat adanya cedera penyerta seperti fraktur/retak/patah tulang, tapi tidak bisa melihat cedera/robekan pada ligamen. Untuk melihat ligamen dengan baik, harus dilakukan MRI.
Untuk pemilihan obat anti nyeri dan radang, memang ada beberapa kontroversi, karena proses peradangan yang terjadi merupakan mekanisme alami tubuh untuk “sembuh”. Dengan mengkonsumsi obat anti nyeri dan anti radang, maka mekanisme ini akan dihilangkan dan akibatnya penyembuhan akan tertunda.
Beberapa jurnal kedokteran olahraga dari American Journal of Sports Medicine telah mengungkap bahwa ternyata kekuatiran tersebut tidak beralasan, karena obat anti nyeri dan anti radang dapat membantu pasien untuk segera kembali menggunakan bagian tubuh yang cedera, sehingga dapat mengurangi bengkak/edema. Hanya saja, patut diketahui bahwa tidak semua anti nyeri memiliki efek yang baik. Anti nyeri yang disarankan untuk dikonsumsi tanpa memiliki efek samping yang buruk untuk penyembuhan cedera ligamen antara lain adalah piroxicam, meloxicam, dan ibuprofen. Golongan anti nyeri yang tidak memiliki efek samping terhadap lambung (cox-2 selective inhibitor) seperti celecoxib sangat tidak dianjurkan, karena telah terindikasi dapat menghambat penyembuhan ligamen

No comments:

Post a Comment